Basel, Transportasi laut yang bobrok sukses memiskinkan petani sawit di Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, akibatnya Tandan Buah Segar (TBS) dibiarkan membusuk hingga memicu kerugian puluhan juta rupiah.

Birokrasi Lambat, Petani Sekarat Keterbatasan armada kapal yang hanya beroperasi dua kali seminggu dituding menjadi biang kerok utama hancurnya komoditas andalan warga ini. Kualitas TBS yang sangat sensitif terhadap waktu dipastikan membusuk di gudang dan pelabuhan karena tertahan lebih dari 48 jam sebelum sampai ke pabrik pengolahan.

Kondisi kritis ini diperparah oleh ketidakjelasan manajemen kapal feri rute Tanjung Gading menuju Sadai yang kerap menolak muatan dengan dalih kelebihan kapasitas. Imbasnya, para pengepul menghentikan total pembelian, memutus urat nadi ekonomi petani kecil yang tidak memiliki akses langsung ke pabrik.

Jeritan dan Sindiran Pedas dari Lapangan seorang petani lokal yang enggan disebutkan namanya membongkar borok layanan publik ini dengan nada geram. Ia menegaskan bahwa petani menderita kerugian massal berkisar antara Rp20 juta hingga Rp50 juta untuk setiap kali musim panen.

“Panen sudah kami lakukan, tapi kapal angkut cuma ada hari Senin dan Jumat dari Tanjung Gading ke Sadai. Sementara buah terus dipanen tiap hari, akhirnya busuk di gudang dan di pelabuhan,” cetusnya dengan nada tinggi.

Petani tersebut juga melayangkan sindiran satir yang menampar muka para pemangku kebijakan yang dinilai menutup mata atas penderitaan mereka.

“Kami bukan minta gratis. Kami cuma minta kepastian transportasi. Kalau begini terus, kebun mau diapain? Apa mau kita beli garam satu ton lalu buah sawitnya kita asinin buat lebaran?” sindir petani dengan nada sarat amarah.

Pemerintah Daerah Bungkam hingga berita ini diturunkan, Dinas Perhubungan Bangka Selatan dan pemerintah kabupaten setempat masih bungkam tanpa memberikan solusi konkret maupun keterangan resmi terkait tuntutan penambahan jadwal kapal logistik khusus perkebunan.

Jika pembiaran ini terus berlanjut, dipastikan sektor perkebunan Lepar Pongok akan lumpuh total sebelum musim panen raya berikutnya tiba.